SILTV.COM – Harga karet dengan acuan Kadar Karet Kering (KKK) 100 persen di Sumatera Selatan kembali mengalami perubahan pada awal September 2026.
Pada perdagangan Rabu (2/9/2026), harga KKK 100 persen tercatat sebesar Rp41.467 per kilogram. Angka tersebut mengalami penurunan sebesar Rp451 per kilogram dibandingkan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp41.918 per kilogram.
Meski terkoreksi, harga karet masih bertahan di atas level Rp41 ribu per kilogram.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo) Sumsel, Rudi Arpian, mengatakan pergerakan harga tersebut tidak terlepas dari kondisi pasar karet dunia dan perubahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Menurutnya, koreksi harga komoditas karet di pasar internasional yang disertai penguatan tipis rupiah menjadi faktor yang menyebabkan harga KKK mengalami penurunan.
Pada perdagangan Rabu, harga karet di SGX-SICOM tercatat 235,1 US Cent per kilogram, dengan kurs acuan sebesar Rp17.638 per dolar AS.
Harga tersebut turun dibanding perdagangan sebelumnya yang berada di angka 237,4 US Cent per kilogram. Pada saat yang sama, nilai tukar rupiah bergerak dari Rp17.657 menjadi Rp17.638 per dolar AS.
Rudi menilai penurunan tersebut masih tergolong terbatas. Ia bahkan melihat peluang harga karet kembali meningkat apabila tren positif di pasar internasional kembali terbentuk.
“Dalam dua hari perdagangan awal September, harga karet turun, tapi masih ada potensi tembus ke harga paling tinggi Rp42 ribu per kg asal momentum harga naik masih ada dan kualitas mutu bokar juga bagus,” ujar Rudi.
Sempat Menguat di Akhir Agustus
Sebelum mengalami koreksi pada awal September, harga karet Sumatera Selatan sempat menunjukkan penguatan.
Pada perdagangan Rabu (26/8/2026), harga KKK 100 persen tercatat mencapai Rp41.446 per kilogram.
Harga tersebut meningkat Rp454 per kilogram dibandingkan perdagangan Senin (24/8/2026) yang berada di level Rp40.992 per kilogram.
Menurut Rudi, kenaikan tersebut terutama dipengaruhi penguatan harga karet di bursa SGX-SICOM.
Saat itu, harga SGX-SICOM meningkat dari 232,7 menjadi 235,3 sen AS per kilogram. Sementara nilai tukar rupiah relatif stabil, dari Rp17.616 menjadi Rp17.614 per dolar AS.
Dengan harga Rp41.446 per kilogram, posisi KKK 100 persen ketika itu sudah berada Rp1.446 di atas level Rp40 ribu per kilogram.






