Ketika Doa Mulai Berisiko Menjadi Riya
Salah satu persoalan yang perlu diwaspadai dalam menampilkan ibadah di depan banyak orang adalah riya.
Secara umum, riya berkaitan dengan melakukan amal agar dilihat, mendapat pujian, atau memperoleh pengakuan dari manusia.
Rasulullah SAW mengingatkan para sahabat mengenai bahaya riya sebagai bentuk syirik kecil.
“Yang paling aku khawatirkan menimpa kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya.”
(HR. Ahmad, dishahihkan Al-Albani)
Riya termasuk persoalan hati yang sangat halus. Bahkan seseorang terkadang tidak menyadari bahwa niatnya telah berubah setelah mendapatkan respons dari orang lain.
Karena itu, unggahan doa di media sosial sebaiknya menjadi kesempatan untuk melakukan introspeksi.
Beberapa Tanda yang Perlu Diwaspadai
Ada sejumlah hal yang dapat menjadi bahan evaluasi bagi seseorang ketika membagikan doa di media sosial.
Pertama, merasa kecewa ketika tidak mendapatkan respons.
Jika seseorang mulai merasa sedih atau gelisah karena doa yang diunggah hanya memperoleh sedikit tanda suka atau komentar, hal tersebut dapat menjadi sinyal bahwa perhatian manusia mulai memiliki pengaruh terhadap niatnya.
Kedua, lebih sibuk memikirkan tampilan daripada makna doa.
Doa sengaja dirangkai dengan kalimat yang sangat dramatis hanya agar terlihat menyentuh atau mendapatkan perhatian lebih banyak.
Ketiga, muncul rasa bangga karena dianggap religius.
Ketika pujian dari orang lain membuat seseorang merasa lebih saleh dibandingkan sebelumnya, kondisi tersebut perlu menjadi bahan perenungan.
Keempat, doa pribadi justru semakin jarang dilakukan.
Jika seseorang hampir selalu membagikan doa ketika sedang berdoa, tetapi jarang memiliki waktu untuk memanjatkannya tanpa diketahui siapa pun, ada baiknya kembali mengevaluasi tujuan dari aktivitas tersebut.
Bagaimana Menjaga Keikhlasan?
Media sosial tidak harus dijauhi hanya karena memiliki risiko menimbulkan riya. Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang menggunakannya dengan bijak.
Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah memanjatkan doa secara pribadi terlebih dahulu. Setelah itu, pertimbangkan apakah doa tersebut memang perlu dibagikan kepada orang lain.
Sebelum menekan tombol unggah, seseorang juga dapat bertanya kepada dirinya sendiri:
“Apakah saya tetap akan memanjatkan doa ini jika tidak ada seorang pun yang mengetahuinya?”
Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu seseorang melihat kembali motivasi di balik unggahannya.
Selain itu, hindari penggunaan kata-kata yang terlalu berlebihan hanya untuk membangun kesan tertentu. Jika tujuan utamanya adalah meminta orang lain ikut mendoakan, sampaikan dengan sederhana dan jelas.
Membagikan doa untuk tujuan edukasi atau mengajak orang lain berbuat baik juga sebaiknya tetap disertai kewaspadaan terhadap niat.
Dan yang tidak kalah penting, perbanyak amal dan doa yang hanya diketahui oleh diri sendiri dan Allah SWT. Ibadah yang tidak diketahui orang lain dapat menjadi latihan untuk menjaga keikhlasan.






