Proyek lahan gambut turut menjadi sorotan
Kebijakan pembangunan juga menyasar kawasan gambut.
Dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan, pemerintah pada masa itu mengembangkan gagasan pembukaan lahan dalam skala besar untuk pertanian.
Salah satu proyek yang menjadi sorotan adalah pengembangan sekitar satu juta hektare lahan gambut untuk kawasan persawahan.
Pembukaan kawasan tersebut berdampak pada kondisi ekosistem gambut yang secara alami memiliki peran penting dalam menyimpan air dan karbon.
Ketika kawasan gambut mengalami pengeringan atau perubahan fungsi, tingkat kerentanannya terhadap kebakaran dapat meningkat, terutama saat musim kemarau panjang.
Karhutla besar pernah terjadi pada 1982-1983 dan 1997-1998
Degradasi lingkungan yang berlangsung dalam waktu panjang kemudian beriringan dengan terjadinya kebakaran besar.
Dua periode yang sering menjadi catatan penting dalam sejarah karhutla Indonesia adalah kebakaran pada 1982-1983 dan 1997-1998.
Kedua peristiwa tersebut menunjukkan bagaimana kondisi lingkungan, cuaca, perubahan penggunaan lahan, serta aktivitas manusia dapat saling berkaitan dalam memperbesar risiko kebakaran.
Pada saat itu, pembahasan mengenai keterlibatan aktivitas perusahaan maupun dampak kebijakan pembangunan pemerintah belum menjadi narasi utama dalam penanganan kebakaran.
Karhutla bukan persoalan sederhana
Pesan Susi Pudjiastuti kembali mengingatkan bahwa pembahasan mengenai karhutla membutuhkan sudut pandang yang lebih luas.
El Nino memang dapat menciptakan kondisi panas dan kering yang membuat lahan lebih mudah terbakar. Namun, faktor manusia, pengelolaan lahan, kondisi kawasan gambut, perubahan fungsi hutan, serta kebijakan tata ruang juga perlu diperhatikan.
Karena itu, penanganan karhutla tidak cukup hanya dilakukan ketika api sudah muncul. Upaya pencegahan perlu dilakukan melalui pengawasan kawasan rawan, pengelolaan lahan yang bertanggung jawab, perlindungan ekosistem gambut, serta penegakan aturan terhadap pihak yang terbukti melakukan pelanggaran.
Kebakaran hutan dan lahan yang berulang setiap tahun bukan hanya persoalan asap dan titik panas. Dampaknya dapat meluas pada lingkungan, kesehatan masyarakat, perekonomian, hingga keberlangsungan ekosistem.
Sorotan Susi tersebut pun menjadi pengingat bahwa mencari penyebab karhutla secara menyeluruh merupakan bagian penting dari upaya mencegah bencana yang sama terus berulang.





