Warga Mulai Khawatir ke Kebun
Kemunculan satwa liar tersebut membuat sebagian warga merasa cemas untuk beraktivitas di perkebunan.
Kekhawatiran terutama dirasakan warga yang sehari-hari bekerja di kebun, termasuk para penyadap karet yang harus berada di kawasan perkebunan.
Meski demikian, aktivitas masyarakat masih berlangsung. Pihak kelurahan meminta warga tetap bekerja dengan meningkatkan kewaspadaan.
“Untuk kegiatan warga tetap berjalan, tetapi harus lebih berhati-hati,” kata Mustakim.
Warga juga diingatkan agar tidak mencoba mendekati, mengejar, menangkap, maupun mengusir sendiri apabila kembali melihat beruang.
Lokasi Berbatasan dengan Wilayah Musi Rawas dan Bengkulu
Reza menjelaskan kawasan tempat satwa tersebut terlihat masih cukup luas dan sebagian berupa area berhutan.
Lokasinya juga berada di kawasan yang berbatasan dengan wilayah Muara Beliti, Kabupaten Musi Rawas, serta daerah Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu.
Menurut Reza, sejauh ini pihaknya belum menerima laporan sebelumnya mengenai kemunculan beruang di wilayah tersebut.
Ia menyebut kondisi cuaca yang panas dan kemarau kemungkinan dapat menjadi salah satu faktor yang membuat satwa liar bergerak mencari makanan atau sumber air. Namun, penyebab pasti kemunculan beruang tersebut masih perlu dipastikan oleh petugas berwenang.
Terkait dugaan adanya hubungan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Reza mengatakan belum memperoleh informasi yang memastikan hal tersebut.
“Untuk laporan di sekitar lokasi mengenai karhutla belum ada. Kami juga masih belum mengetahui secara pasti,” ujarnya.
BKSDA Segera Dilibatkan
Setelah menerima laporan, pihak Kecamatan Lubuklinggau Selatan I mengarahkan agar keberadaan satwa tersebut segera dikoordinasikan dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).
Langkah ini dilakukan untuk memastikan penanganan dilakukan secara tepat, mengingat beruang merupakan satwa liar yang dilindungi.
Pihak kelurahan bersama masyarakat juga telah melakukan upaya agar beruang tidak semakin mendekati area permukiman.
Namun, warga diminta tidak mengambil tindakan sendiri yang dapat membahayakan manusia maupun satwa tersebut.
“Kami mengimbau warga agar waspada dan berhati-hati ketika pergi ke kebun. Masyarakat di sekitar sini mayoritas berkebun, sehingga memang ada kekhawatiran,” kata Reza.
Lurah Lubuk Binjai juga membenarkan informasi mengenai kemunculan beruang tersebut. Namun, ia mengaku belum bertemu langsung dengan petugas PT KAI yang menjadi orang pertama melihat satwa itu sehingga sejumlah informasi masih perlu dikonfirmasi lebih lanjut.
Hingga Kamis (3/9/2026), keberadaan beruang tersebut belum diketahui secara pasti. Warga yang kembali melihat satwa itu diminta segera melapor kepada pihak kelurahan, kecamatan, atau petugas terkait.
Masyarakat juga diimbau tidak mendekati satwa tersebut demi menghindari risiko yang tidak diinginkan serta membantu proses penanganan oleh petugas konservasi.





