Ilmu Tanpa Amal dan Amal Tanpa Ilmu, Muhammadiyah Ingatkan Dampaknya

oleh -37 Dilihat
oleh
Pesan Khutbah Jumat Muhammadiyah: Jadikan Ilmu sebagai Landasan Beramal. (Foto: iStock/Tenerum)

SILTV.COM – Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhammad Ariffudin, mengajak umat Islam untuk menjadikan ilmu sebagai landasan dalam menjalankan ibadah maupun berbagai aktivitas kehidupan.

Menurutnya, pengetahuan dan perbuatan tidak semestinya dipisahkan. Ilmu menjadi dasar agar setiap amal dilakukan secara tepat, sedangkan ilmu yang tidak diwujudkan melalui amal juga belum memberikan manfaat secara maksimal.

Pesan tersebut disampaikan Muhammad Ariffudin saat menjadi khatib dalam salat Jumat di Masjid KH Ahmad Dahlan, Yogyakarta, Jumat (4/9).

Dalam khutbahnya, Ariffudin menguraikan pelajaran yang dapat diambil dari Surah Al-Fatihah, khususnya mengenai karakter manusia dalam menjalankan kehidupan beragama.

Ia menjelaskan terdapat tiga gambaran kelompok manusia. Pertama, mereka yang beribadah dan beramal dengan berpedoman pada ilmu. Kedua, orang yang melakukan amal tanpa memiliki pengetahuan yang memadai. Sementara kelompok ketiga adalah mereka yang sudah mengetahui ilmu, tetapi tidak menerapkannya dalam kehidupan.

Ariffudin menilai kelompok pertama merupakan golongan yang paling diharapkan karena amal yang dilakukan memiliki dasar yang jelas.

“Yang pertama adalah orang-orang yang mereka beramal berdasarkan ilmu dan mereka ini adalah orang-orang yang beruntung,” ujarnya.

Amal Harus Memiliki Landasan

Ariffudin menjelaskan bahwa beramal berdasarkan ilmu berarti memastikan suatu ibadah mempunyai dasar yang benar dan sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan sunah Nabi Muhammad saw.

Menurutnya, seseorang tidak cukup hanya memiliki niat baik ketika melakukan suatu amalan. Pengetahuan mengenai tata cara dan landasan amal juga penting agar perbuatan tersebut tidak justru menyimpang dari tuntunan agama.

“Kalau suatu amalan itu dibangun di atas ilmu, maksudnya adalah sesuai dengan Quran dan sesuai dengan sunah an-Nabawiyah,” jelasnya.

Ia kemudian mengingatkan tentang kelompok yang mengetahui suatu ilmu tetapi tidak mengamalkannya. Kondisi tersebut dikaitkan dengan doa dalam Surah Al-Fatihah agar umat Islam senantiasa berada di jalan yang lurus dan tidak termasuk golongan yang mendapat kemurkaan maupun tersesat.

Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk menjadikan sosok yang berilmu sekaligus mengamalkan ilmunya sebagai teladan dalam kehidupan.

“Yang kita inginkan, yang kita ingin capai adalah model yang pertama, alladzi ya’budunallah wa’malun ala ilmin, yang beribadah kepada Allah Swt. dan beramal di atas ilmu,” katanya.

Ilmu Penting dalam Setiap Profesi

Lebih jauh, Ariffudin menegaskan bahwa prinsip beramal dengan dasar ilmu tidak hanya berlaku dalam urusan ibadah. Menurutnya, setiap pekerjaan juga membutuhkan pengetahuan dan pertimbangan yang tepat.

Ia mencontohkan profesi dokter. Ketika seorang dokter harus menentukan tindakan operasi terhadap pasien, keputusan tersebut harus didasarkan pada kompetensi medis, pengetahuan yang memadai, serta tanggung jawab profesional.

“Kalau dia memutuskan suatu operasi ala ilmin, di atas ilmu yang benar dan amanah, maka insyaallah apa yang dilakukan ini adalah sebagaimana yang kita inginkan, yaitu di atas ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Dalam konteks keilmuan modern, ia menyebut prinsip tersebut sejalan dengan pendekatan evidence-based, yaitu mengambil keputusan berdasarkan bukti dan pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa keputusan seorang profesional dapat menimbulkan persoalan apabila tidak lagi berangkat dari bidang keahlian dan ilmu yang dimilikinya.

“Kalau seorang dokter memberikan suatu keputusan, namun bukan didasarkan di atas ilmu medis, tapi didasarkan di atas kepentingan yang lain, wallahu a’lam, dan kita berlindung kepada Allah dari yang seperti ini,” tuturnya.

Menurut Ariffudin, prinsip tersebut dapat diterapkan pada berbagai bidang pekerjaan. Setiap tindakan sebaiknya dilakukan berdasarkan pengetahuan yang benar dan disertai sikap amanah.

Menjadikan Jalan Lurus sebagai Pedoman

Dalam khutbahnya, Ariffudin juga mengaitkan pentingnya ilmu dan amal dengan doa yang dibaca umat Islam setiap hari melalui Surah Al-Fatihah.

Salah satu permohonan dalam surah tersebut adalah agar manusia memperoleh petunjuk menuju siratal mustaqim, atau jalan yang lurus.

Ia menjelaskan bahwa jalan lurus tersebut merupakan jalan yang telah ditempuh oleh orang-orang yang mendapatkan nikmat dari Allah, sebagaimana disebut dalam ayat alladzina an’amta alaihim.

“Jalan yang disebut dengan siratal mustaqim adalah jalan yang sudah ditempuh. Siapa yang menempuh siratal mustaqim? Alladzina an’amta alaihim, yaitu orang-orang yang telah Allah beri nikmat atas mereka,” jelasnya.

Dengan demikian, umat Islam diharapkan tidak hanya mengejar pengetahuan, tetapi juga menjadikannya sebagai pedoman dalam berbuat.

Setiap Perbuatan Akan Dipertanggungjawabkan

Pada khutbah kedua, Ariffudin kembali mengingatkan jamaah bahwa seluruh aktivitas manusia berada dalam pengetahuan dan pengawasan Allah Swt.

Menurutnya, tidak ada perbuatan yang benar-benar luput dari perhatian Allah, baik sesuatu yang terlihat maupun yang tersimpan dalam hati.

Ia mengingatkan bahwa pendengaran, penglihatan, hati, serta pengetahuan yang dimiliki manusia pada akhirnya akan dimintai pertanggungjawaban.

“Semua penglihatan kita, pengetahuan kita, pendengaran kita semuanya akan mendapatkan pertanggungjawaban atau dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt.,” katanya.

Karena itu, umat Islam diajak untuk terus memperdalam pengetahuan, memperbaiki amal, dan memastikan setiap keputusan dalam kehidupan memiliki dasar yang benar.

Pesan tersebut menegaskan bahwa ilmu dan amal merupakan dua hal yang saling melengkapi. Ilmu memberikan arah bagi tindakan, sementara amal menjadi bentuk nyata dari pengetahuan yang telah dipelajari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.