Tren Harga Masih Berpeluang Positif
Rudi menyebut kenaikan harga pada akhir Agustus menjadi salah satu indikator bahwa pasar karet masih memiliki peluang untuk bergerak lebih tinggi.
Menurut dia, perkembangan harga selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh pergerakan harga karet di pasar internasional serta kondisi nilai tukar.
“Momentum positif masih terjaga dan peluang harga bergerak lebih tinggi tetap terbuka,” jelasnya.
Meski demikian, petani tetap perlu memperhatikan kualitas karet yang dihasilkan. Sebab, harga acuan KKK 100 persen tidak secara otomatis menjadi harga yang diterima seluruh petani.
Harga Petani Bergantung pada Kualitas Bokar
Harga jual karet di tingkat petani menyesuaikan dengan kadar karet kering (KKK) dari bahan olahan karet (bokar) yang disetorkan.
Semakin tinggi kadar karet kering dalam bokar, semakin besar pula potensi harga jual yang diperoleh petani.
Sebagai gambaran, berdasarkan perhitungan yang disampaikan Apkarindo, harga untuk beberapa tingkat KKK berada di kisaran:
- KKK 100 persen: Rp41.467 per kilogram
- KKK 70 persen: sekitar Rp29.012 per kilogram
- KKK 60 persen: sekitar Rp24.868 per kilogram
- KKK 50 persen: sekitar Rp20.723 per kilogram
- KKK 40 persen: sekitar Rp16.578 per kilogram
- KKK 30 persen: sekitar Rp12.434 per kilogram
Rudi mengingatkan petani agar tidak mengabaikan kualitas bokar. Mutu bahan olahan karet menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan nilai jual di tingkat pabrik.
“Menjaga mutu bokar tetap menjadi kunci agar petani memperoleh harga jual yang optimal,” katanya.
Dengan harga yang masih berada di kisaran Rp41 ribu per kilogram untuk KKK 100 persen, petani karet Sumsel masih memiliki peluang mendapatkan harga lebih tinggi apabila harga komoditas dunia kembali menguat dan kualitas bokar tetap terjaga.







