SILTV.COM – Kasus dugaan perundungan (bullying) yang melibatkan pelajar SMP di Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan, akhirnya menemui titik terang. Berdasarkan hasil penelusuran kepolisian, insiden tersebut diduga dipicu oleh persoalan asmara yang kemudian diperburuk dengan aksi saling mengejek di luar lingkungan sekolah.
Video perkelahian yang sempat viral di media sosial itu memperlihatkan dua siswa saling baku pukul di sebuah lorong di samping SD Negeri 22, Jalan Garuda Hitam, Kelurahan Pasar Permiri, Kecamatan Lubuklinggau Barat II. Sejumlah pelajar lainnya terlihat hanya menyaksikan kejadian tanpa berusaha melerai.
Meski baru ramai diperbincangkan di media sosial, peristiwa tersebut diketahui terjadi pada Kamis, 9 Juli 2026 sekitar pukul 13.00 WIB, usai kegiatan belajar mengajar berakhir.
Kasat Intelkam Polres Lubuklinggau, Iptu Giartono, mengatakan pihaknya telah melakukan klarifikasi ke sekolah untuk mengetahui kronologi sebenarnya.
Dari hasil pendalaman, terdapat empat siswa yang diduga terlibat dalam kejadian tersebut, yakni AK yang merupakan siswa kelas VII, serta RA, MR, dan RI yang merupakan siswa kelas VIII.
Menurut Giartono, pihak sekolah menjelaskan bahwa akar persoalan bermula dari hubungan asmara yang melibatkan dua siswa dengan seorang siswi di sekolah tersebut.
“Berdasarkan keterangan dari pihak sekolah, pemicu peristiwa ini berkaitan dengan persoalan hubungan asmara antara kedua siswa dengan seorang siswi,” ujar Giartono, Jumat (10/7/2026).
Selain persoalan asmara, penyelidikan juga mengungkap adanya konflik pribadi berupa saling ejek yang sebelumnya pernah terjadi di luar lingkungan sekolah.
Kepada polisi, korban mengaku sempat menganggap persoalan tersebut telah selesai. Namun situasi kembali memanas ketika dirinya diajak berkelahi setelah selesai mengumpulkan tugas sekolah.
Korban mengaku sempat menolak ajakan tersebut dan memilih menghindar dengan cara berlari. Sayangnya, ia dikejar oleh sejumlah pelajar hingga akhirnya terjatuh dan menjadi korban penganiayaan.
Dalam keterangannya, korban juga mengaku mengalami tindakan kekerasan berupa pukulan hingga kepalanya sempat diinjak saat berada di lokasi kejadian.
Perkelahian itu baru berhenti setelah ada warga yang datang dan merekam insiden tersebut menggunakan telepon genggam. Menyadari aksinya direkam, para pelajar yang berada di lokasi langsung membubarkan diri.
Sementara itu, pihak kepolisian menyebut proses penyelesaian secara kekeluargaan masih belum dapat dilakukan karena sebagian siswa sedang mengikuti pembelajaran secara daring sehingga belum hadir ke sekolah.
Pihak SMP Negeri 1 Lubuklinggau dijadwalkan memanggil seluruh siswa yang terlibat beserta orang tua masing-masing untuk mengikuti mediasi pada Sabtu, 11 Juli 2026 pukul 10.00 WIB di ruang kantor sekolah.
Dalam pertemuan tersebut nantinya juga akan dibahas langkah pembinaan terhadap para pelajar agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Kasus ini menjadi perhatian masyarakat setelah rekaman video perkelahian menyebar luas di berbagai platform media sosial. Banyak warganet menyoroti minimnya upaya pelajar lain untuk melerai, bahkan sebagian hanya merekam dan menyaksikan jalannya perkelahian.
Peristiwa tersebut kembali menjadi pengingat pentingnya pengawasan dari orang tua, sekolah, serta lingkungan sekitar dalam mencegah terjadinya aksi perundungan di kalangan pelajar.






