Kebahagiaan dalam Islam Tak Cukup dengan Harta, Ini Penjelasan Rahmadi Wibowo

oleh -34 Dilihat
oleh
Hati Tenang dan Dekat dengan Allah, Rahmadi Wibowo Ungkap Jalan Menuju Kebahagiaan. (Foto: Pixabay/SyauqiFillah)

SILTV.COM – Kebahagiaan dalam perspektif Islam tidak hanya berkaitan dengan kesenangan yang dapat dirasakan melalui pancaindra. Kebahagiaan memiliki makna yang lebih luas, yakni ketenangan jiwa, ketenteraman hati, kelapangan dada, serta kedekatan seorang hamba kepada Allah SWT.

Hal tersebut disampaikan Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Rahmadi Wibowo, saat mengisi kajian di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Ahad (13/09/2026).

Dalam kajian tersebut, Rahmadi mengajak jamaah memahami konsep kebahagiaan yang dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah sa’adah. Ia menjelaskan bahwa Islam memiliki pandangan tersendiri mengenai arti bahagia, yang tidak semata-mata diukur dari banyaknya kenikmatan duniawi.

Rahmadi mengawali penjelasannya dengan mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebut beberapa hal sebagai bagian dari kebahagiaan seseorang di dunia, di antaranya memiliki tetangga yang baik, kendaraan yang nyaman, serta rumah yang luas. Dalam riwayat lain juga disebutkan pasangan yang saleh atau salihah.

Menurut Rahmadi, hal-hal tersebut memang dapat memberikan kenyamanan dalam kehidupan. Namun, kenyamanan dan kenikmatan duniawi tidak sepenuhnya sama dengan kebahagiaan.

“Kebahagiaan itu tempatnya di dalam hati,” ujar Rahmadi.

Ia menjelaskan, kenikmatan lebih banyak berkaitan dengan sesuatu yang diterima oleh pancaindra. Mata dapat menikmati pemandangan, lidah merasakan makanan, hidung mencium aroma, sementara kulit merasakan sentuhan.

Berbeda dengan kenikmatan fisik, kebahagiaan berada pada ranah batin. Karena itu, seseorang bisa saja memiliki banyak hal yang menyenangkan secara materi, tetapi belum tentu merasakan ketenteraman dalam dirinya.

Kebahagiaan Lebih Lama daripada Kenikmatan

Rahmadi juga menjelaskan perbedaan antara kebahagiaan dan kenikmatan dari sisi waktu. Kenikmatan yang dirasakan tubuh umumnya bersifat sementara.

Ia memberikan gambaran sederhana melalui makanan. Rasa makanan dapat dinikmati ketika dikunyah, tetapi sensasi tersebut berangsur hilang setelah makanan ditelan.

Sementara itu, sesuatu yang telah tertanam dalam hati dapat memberikan pengaruh yang jauh lebih panjang.

“Kalau kebahagiaan pada umumnya dirasakan di dalam diri batin itu panjang lama,” jelasnya.

Rahmadi kemudian menyampaikan salah satu pengertian sa’adah sebagai kondisi ketika seseorang memperoleh ketenangan jiwa, ketenteraman hati, dan kelapangan dada.

Menurutnya, kebahagiaan tersebut tidak muncul begitu saja. Kondisi batin yang tenang berkaitan dengan konsistensi seseorang dalam menjalankan kebaikan serta membangun hubungan yang dekat dengan Allah SWT.

“Jadi berbuat baik. Dan adanya kedekatan kepada Allah,” tuturnya.

Kebahagiaan Tumbuh dari Harapan yang Baik

Dalam kajiannya, Rahmadi juga menghubungkan kebahagiaan dengan sikap optimistis. Ia mengutip firman Allah SWT, wala khaufun ‘alaihim wala hum yahzanun, yang menggambarkan keadaan orang-orang yang tidak diliputi rasa takut dan kesedihan.

Rahmadi menerangkan bahwa rasa takut umumnya berkaitan dengan sesuatu yang belum terjadi atau kemungkinan yang akan dihadapi pada masa depan. Sementara kesedihan lebih berhubungan dengan sesuatu yang telah berlalu.

Karena itu, keimanan kepada Allah menjadi salah satu landasan bagi seorang Muslim untuk tetap memiliki harapan dan tidak larut dalam kekhawatiran.

“Orang kalau bahagia masa depannya itu ndak perlu dirisaukan. Karena agama Islam itu agama yang menuntunkan untuk terus memiliki harapan baik,” ungkapnya.

Menurut Rahmadi, harapan terbesar seorang Muslim pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan kehidupan dunia, tetapi juga kehidupan akhirat. Surga dan ampunan Allah menjadi bagian dari harapan tersebut.

Ia mengatakan, keyakinan terhadap luasnya ampunan Allah dapat mendorong seseorang untuk terus menjalani kehidupan dengan penuh harapan.

“Kalau sudah diampuni, sudah dimaafkan semua kesalahan-kesalahan, ndak perlu takut,” katanya.

Sikap optimistis itu, lanjutnya, juga perlu diwujudkan melalui ikhtiar. Ketika seseorang mengalami sakit, misalnya, ia tetap dianjurkan untuk berobat dan berusaha menjaga kehidupannya.

Rahmadi mengingatkan bahwa seorang Muslim tidak seharusnya kehilangan harapan kepada Allah dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Hati yang Lapang Mendorong Seseorang Berbuat Baik

Aspek lain dari kebahagiaan adalah kelapangan dada. Rahmadi menggambarkan kondisi tersebut dengan istilah Jawa, atine segoro, yakni hati yang luas dan dalam seperti samudra.

“Hati yang seperti samudra satu ya, dia itu menerima kebenaran, mudah memaafkan karena hatinya luas,” ujarnya.

Menurut Rahmadi, orang yang memiliki hati lapang cenderung mampu menerima kebenaran, menghadapi perbedaan, dan memberikan maaf kepada orang lain.

Ia kemudian mengisahkan bagaimana Nabi Muhammad SAW tetap menunjukkan kasih sayang ketika mendapatkan perlakuan buruk dari orang lain. Bahkan ketika disakiti, Nabi tetap mendoakan orang yang melakukan perbuatan tersebut.

Bagi Rahmadi, kemampuan memaafkan merupakan salah satu bentuk nyata dari kelapangan hati.

Ia juga menceritakan pengalaman seorang gurunya yang memiliki anak dengan latar belakang agama berbeda. Anak tersebut kemudian memilih memeluk Islam dan mendapatkan penolakan dari ayahnya hingga diusir dari rumah.

Meski mendapatkan perlakuan tersebut, sang anak tetap datang dan membantu ayahnya.

Ketika ditanya mengapa masih datang setelah diusir, ia menjelaskan bahwa ajaran Islam tetap mengajarkan seorang anak untuk berbuat baik kepada orang tua, meskipun terdapat perbedaan keyakinan.

Sikap tersebut kemudian menjadi titik balik bagi sang ayah. Ia akhirnya meminta anaknya untuk mengajarinya mengenai Islam hingga kemudian memeluk Islam.

“Jadi lapang dada ya, itu memaafkan, efeknya itu dahsyat sekali ya,” tutur Rahmadi.

Perilaku Baik Menjadi Jalan Menuju Kebahagiaan

Rahmadi menegaskan bahwa kondisi batin seseorang memiliki hubungan dengan perilakunya. Perbuatan baik dapat menghadirkan ketenangan dan kebahagiaan, sedangkan perbuatan buruk justru dapat menimbulkan kegelisahan dalam hati.

“Jadi perilaku yang baik itu menyebabkan bahagia,” katanya.

Ia juga mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan bahwa seseorang akan merasa senang ketika melakukan kebaikan dan merasa tidak nyaman ketika melakukan keburukan.

Rahmadi menyebut kondisi tersebut dapat menjadi salah satu gambaran dari keimanan seseorang.

“Orang beriman tandanya berbuat baik senang, berbuat jahat susah,” ujarnya.

Karena itu, kebahagiaan dalam Islam tidak hanya dicari melalui kepemilikan materi, kenyamanan hidup, maupun berbagai kesenangan duniawi. Kebahagiaan juga dibangun melalui perilaku yang baik dan hati yang bersih.

Mendekatkan Diri kepada Allah

Rahmadi kemudian menjelaskan bahwa salah satu jalan utama menuju kebahagiaan adalah attaqarrub ilallah, atau mendekatkan diri kepada Allah SWT.

“Supaya bahagia itu dekat Allah,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa berbagai bentuk kenikmatan dunia pada akhirnya memiliki batas. Rumah, kendaraan, harta, pasangan, anak, serta berbagai hal yang dimiliki manusia akan ditinggalkan ketika kehidupan dunia berakhir.

Karena itu, menurut Rahmadi, seorang Muslim perlu menjadikan kedekatan dengan Allah sebagai orientasi utama dalam kehidupan.

Kedekatan kepada Allah tidak hanya memberikan ketenteraman selama menjalani kehidupan dunia, tetapi juga menjadi bekal untuk menghadapi kehidupan akhirat.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Rahmadi mengajak jamaah memperbanyak istigfar. Memohon ampun kepada Allah merupakan salah satu bentuk pengakuan seorang hamba atas keterbatasan dan kesalahannya sekaligus bentuk pengharapan terhadap rahmat Allah SWT.

Ia menilai istigfar memiliki posisi penting karena ampunan Allah merupakan salah satu harapan terbesar seorang Muslim.

Dengan demikian, kebahagiaan dalam Islam tidak berhenti pada rasa senang yang muncul sesaat. Kebahagiaan lebih berkaitan dengan kondisi hati yang tenang, jiwa yang tenteram, dada yang lapang, perilaku yang baik, harapan terhadap masa depan, serta hubungan yang semakin dekat dengan Allah SWT.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.