Polusi Udara vs Abu Vulkanik, Kenali Perbedaan dan Cara Melindungi Diri

oleh -47 Dilihat
oleh
Sama-Sama Ganggu Pernapasan, Ini Perbedaan Polusi dan Abu Vulkanik

SILTV.COM – Kondisi udara yang terlihat keruh atau kelabu tidak selalu disebabkan oleh persoalan yang sama. Polusi udara dan abu vulkanik memang sama-sama dapat mengganggu kesehatan, khususnya sistem pernapasan, tetapi keduanya memiliki karakteristik dan cara penanganan yang berbeda.

Memahami perbedaan tersebut menjadi penting, terutama ketika aktivitas gunung api meningkat dan material erupsi mulai menyebar ke permukiman warga.

Berbeda dari Sumber hingga Karakter Partikel

Polusi udara pada umumnya muncul akibat keberadaan berbagai zat pencemar yang berasal dari aktivitas manusia maupun proses alami.

Emisi kendaraan bermotor, kegiatan industri, pembakaran, hingga debu menjadi sejumlah sumber yang dapat memengaruhi kualitas udara. Salah satu indikator yang banyak digunakan untuk menilai pencemaran udara adalah PM2,5, yakni partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk hingga bagian dalam paru-paru.

Selain PM2,5, PM10 juga menjadi salah satu parameter penting dalam pedoman kualitas udara yang digunakan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Berbeda dengan polusi udara perkotaan, abu vulkanik berasal langsung dari aktivitas gunung api. Material ini terbentuk dari pecahan batuan, mineral, serta material vulkanik lain yang berukuran sangat halus akibat proses erupsi.

Ukuran partikelnya membuat abu vulkanik dapat terhirup sehingga tidak tepat jika dianggap sama dengan debu biasa.

Kementerian Kesehatan menyebut paparan abu vulkanik dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan, mata, maupun kulit. Partikel berukuran sangat kecil, termasuk PM2,5 yang terkandung dalam abu, berpotensi masuk lebih jauh ke paru-paru dan memicu peradangan serta gangguan kardiopulmonal.

Saat Hujan Abu, Kurangi Paparan

Ketika hujan abu vulkanik terjadi, masyarakat perlu mengambil langkah perlindungan diri sesegera mungkin. Penanganannya tidak cukup hanya dengan melihat indeks atau angka kualitas udara seperti yang biasa dilakukan pada kondisi polusi harian.

Badan Geologi mengimbau masyarakat yang berada di wilayah terdampak abu erupsi Anak Krakatau untuk mengurangi kegiatan di luar ruangan. Jika aktivitas di luar rumah tidak dapat dihindari, masyarakat dianjurkan menggunakan masker.

Kementerian Kesehatan juga memberikan sejumlah langkah perlindungan. Ketika konsentrasi abu meningkat, masyarakat disarankan tetap berada di dalam ruangan, menutup pintu dan jendela, serta menghindari kegiatan yang dapat membuat endapan abu kembali beterbangan.

Apabila harus keluar rumah, penggunaan masker dengan kemampuan filtrasi tinggi seperti N95, KN95, KF94, FFP2, atau jenis yang setara dianjurkan untuk mengurangi paparan partikel.

Perlindungan terhadap mata juga perlu diperhatikan. Jika mata terkena abu, masyarakat diingatkan untuk tidak menggosoknya karena dapat memperparah iritasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.