Punya Riwayat Asma, Pengemudi Ojol di Palembang Meninggal Saat Kabut Asap Pekat

oleh -77 Dilihat
oleh
Hardiansyah Meninggal Usai Sesak Napas, Keluarga Soroti Kabut Asap Palembang. (Foto: SILTV.COM/Istimewa)

SILTV.COM – Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Sumatera Selatan dalam beberapa waktu terakhir meninggalkan duka bagi keluarga Hardiansyah (41), warga Jalan Mataram Ujung, Kelurahan Kemas Rindo, Kecamatan Kertapati, Palembang.

Hardiansyah yang sehari-hari bekerja sebagai pengemudi ojek online (ojol) meninggal dunia setelah mengalami sesak napas pada Jumat (2/10/2026) pagi. Keluarga menduga kondisi udara yang dipenuhi kabut asap turut memperburuk penyakit asma yang telah lama dideritanya.

Istri almarhum, Rika Yunita (39), mengatakan Hardiansyah memang memiliki riwayat asma. Namun, dalam beberapa pekan terakhir, keluhan batuk dan sesak napas disebut semakin sering muncul, khususnya setelah suaminya beraktivitas di luar rumah.

Sebagai pengemudi ojol, Hardiansyah terbiasa bekerja sejak subuh hingga sore. Aktivitas tersebut membuatnya cukup lama berada di luar rumah dengan sepeda motor.

Meski memiliki riwayat asma, Hardiansyah tetap berusaha bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Rika mengatakan suaminya juga selalu menggunakan masker ketika keluar rumah karena menyadari kondisi kesehatannya.

“Bapak itu aktivitas dari pagi, dari subuh. Gara-gara asap ini juga memengaruhi aktivitas. Bapak kalau keluar selalu pakai masker karena tahu punya asma,” ujar Rika saat ditemui di rumah duka, Sabtu (3/10/2026).

Menurut Rika, serangan asma yang cukup berat sebelumnya sempat dialami Hardiansyah pada 15 September 2026. Ketika itu, kondisinya berangsur membaik setelah mengonsumsi obat sehingga keluarga tidak membawanya ke dokter.

“Memang Bapak ada riwayat asma. Sempat kambuh parah tanggal 15 September, tapi waktu itu tidak sempat ke dokter karena langsung membaik setelah diberi obat,” katanya.

Dalam beberapa hari terakhir, kondisi udara di sekitar tempat tinggal mereka disebut semakin dipenuhi kabut asap. Bahkan, asap dirasakan masuk hingga ke dalam rumah, terutama pada pagi dan malam hari.

Hardiansyah juga mengalami batuk dan pilek. Kondisi tersebut membuat keluarga semakin khawatir karena penyakit asmanya sewaktu-waktu dapat kembali kambuh.

Pada Jumat pagi, kondisi Hardiansyah tiba-tiba memburuk. Setelah keluar dari kamar, ia mulai merasakan sesak napas. Kondisi tersebut semakin berat setelah dirinya keluar dari kamar mandi.

Rika mengatakan saat itu kabut asap cukup tebal di sekitar rumah. Bahkan, karena bagian kamar mandi tidak memiliki plafon, kabut disebut lebih mudah masuk ke area tersebut.

Hardiansyah kemudian mengeluhkan kesulitan bernapas. Ia bahkan sempat meminta keluarga memberikan pertolongan dengan cara mengurut dan mengeriki tubuhnya.

“Asmanya langsung parah. Sempat minta diuruti dan dikeriki,” kata Rika.

Keluarga sempat menggunakan nebulizer untuk membantu meredakan sesak napas yang dialami Hardiansyah. Namun, kali ini kondisinya tidak kunjung membaik.

Karena panik melihat keadaan Hardiansyah semakin menurun, keluarga akhirnya memutuskan membawanya ke RSUD BARI Palembang untuk mendapatkan penanganan medis.

Hardiansyah tiba di rumah sakit sekitar pukul 08.00 WIB. Namun, saat sampai di Instalasi Gawat Darurat (IGD), kondisinya sudah tidak sadarkan diri.

Kepala Tim Humas dan Pemasaran RSUD Palembang, Adea Triutami, mengatakan tim medis langsung melakukan pemeriksaan terhadap pasien.

“Pasien sampai di IGD sudah dalam kondisi tidak sadar. Dilakukan pemeriksaan oleh dokter, sudah tidak ada nadi dan tidak ada napas,” kata Adea, Sabtu (3/10/2026).

Tim medis kemudian melakukan resusitasi jantung paru (RJP) serta memberikan obat dan tindakan medis lainnya. Namun, Hardiansyah tidak menunjukkan respons.

“Sudah dilakukan RJP dan pemberian obat, namun pasien sudah tidak respons lagi,” ujarnya.

Sekitar pukul 08.30 WIB, Hardiansyah akhirnya dinyatakan meninggal dunia.

Pihak keluarga menduga paparan kabut asap menjadi salah satu faktor yang memperburuk kondisi pernapasan Hardiansyah. Dugaan tersebut muncul karena keluhan sesak dan batuk lebih sering dirasakan sejak kondisi udara di Palembang dipenuhi asap.

Rika mengatakan suaminya juga beberapa kali mengeluhkan kondisi kabut asap yang tak kunjung membaik. Hardiansyah bahkan sempat bertanya kapan udara di sekitar rumah mereka kembali normal.

“Almarhum suka curhat, kapan asap ini menurun. Sering juga mengeluh sakit,” tuturnya.

Sebelum meninggal, Hardiansyah juga sempat mengeluhkan kondisi udara yang membuatnya kesulitan bernapas. Rika mengenang, suaminya sempat mengucapkan keluhan mengenai kabut asap ketika sesaknya kambuh.

“Ya Allah saro nian (susah sekali), gara-gara kabut ini,” ucap Rika menirukan perkataan suaminya.

Kepergian Hardiansyah yang berlangsung begitu cepat membuat keluarga terpukul. Terlebih, sebelumnya ia masih menjalankan aktivitas sehari-hari sebagai pengemudi ojol.

Jenazah Hardiansyah kemudian dimakamkan pada Jumat sore.

Keluarga berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk mengatasi persoalan kabut asap di Palembang dan wilayah Sumatera Selatan. Mereka juga meminta perhatian lebih diberikan kepada masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan dan warga yang sehari-hari harus bekerja di luar ruangan.

“Pengennya pemerintah ini bergerak. Kalau memang kondisi lagi tidak aman, kabut sudah ada, asap sudah ada, jangan sampai ada korban yang lain. Cukup kami,” ujar Rika.

Menurutnya, masyarakat dengan riwayat asma menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk.

“Apalagi ada asma. Kalau sedang sesak, apalagi ada asma,” katanya.

Hingga kini, keluarga masih berduka atas kepergian Hardiansyah. Sejumlah pihak dari kelurahan disebut telah mendatangi rumah duka untuk menyampaikan belasungkawa.

Keluarga juga menyebut belum menerima santunan dari pemerintah terkait meninggalnya Hardiansyah.

Peristiwa tersebut menjadi duka bagi keluarga sekaligus pengingat akan pentingnya kewaspadaan terhadap kondisi kualitas udara, khususnya bagi masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan dan mereka yang harus beraktivitas di luar rumah setiap hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.