SILTV.COM – Penyaluran program Makan Bergizi Gratis (MBG) kepada peserta didik di Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan, dihentikan sementara sejak diberlakukannya pembelajaran jarak jauh (PJJ) pada 10 Oktober 2026. Penghentian distribusi tersebut turut berdampak pada pemberian insentif bagi relawan yang bertugas di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Koordinator Wilayah MBG Lubuklinggau, Desi Puspasari, mengatakan penyaluran makanan bergizi kepada peserta didik akan kembali dilaksanakan setelah kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka diberlakukan kembali oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud).
Menurut Desi, hingga Sabtu (17/10/2026), penyaluran MBG masih belum berjalan karena pihaknya menunggu kebijakan terbaru dari Disdikbud mengenai pelaksanaan pembelajaran tatap muka.
“Saat ini belum ada penyaluran MBG sejak diberlakukan PJJ kemarin (10/10/2026). Oleh sebab itu, insentif untuk relawan juga off dulu. Nantinya akan diberlakukan lagi setelah Disdikbud kembali menerapkan kegiatan belajar mengajar tatap muka. Kami menunggu edaran dari Disdikbud,” kata Desi, Sabtu (17/10/2026).
Ia menjelaskan, penghentian sementara distribusi MBG berkaitan dengan perubahan sistem pembelajaran di sekolah. Penyaluran makanan kepada peserta didik akan kembali dilakukan setelah ada kebijakan resmi yang menjadi acuan pelaksanaan program di wilayah tersebut.
BACA JUGA: Polisi Ungkap Pembobolan Rumah di Lubuklinggau, Dua Tersangka dan Senpira Diamankan
38 Dapur SPPG Tercatat di Lubuklinggau
Di sisi lain, Desi menyebutkan bahwa saat ini terdapat 38 dapur SPPG di Kota Lubuklinggau. Dari jumlah tersebut, satu dapur yang berada di Kecamatan Lubuklinggau Utara II masih berstatus suspend atau dihentikan sementara operasionalnya.
Penghentian operasional dapur tersebut dilakukan karena pihak pengelola masih menunggu penerbitan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
Desi menjelaskan, dapur SPPG tersebut sebelumnya sempat menjalankan operasional untuk keperluan pengujian sampel makanan MBG. Namun, setelah proses pengujian dilakukan, kegiatan dapur kembali dihentikan sementara hingga sertifikat yang diperlukan diterbitkan.
“Kemarin operasional sebentar untuk uji sampel MBG-nya saja. Setelah itu suspend dulu, sampai menunggu SLHS keluar. Setelah itu dapat beroperasi kembali,” jelasnya.
Dengan demikian, dapur tersebut belum dapat kembali menjalankan operasional secara normal sebelum SLHS diterbitkan. Sertifikat tersebut menjadi salah satu persyaratan yang harus dipenuhi untuk mendukung kelayakan higiene dan sanitasi dalam penyediaan makanan.
BACA JUGA: Pelajar SMK Lubuklinggau Jadi Korban Penusukan, Pelaku Masih Misterius
12 Dapur SPPG Baru Masih Tahap Persiapan
Selain 38 dapur yang telah tercatat, Koordinator Wilayah MBG Lubuklinggau juga menyebutkan adanya 12 calon dapur SPPG baru yang saat ini masih dalam tahap persiapan.
Belasan dapur tersebut direncanakan menambah kapasitas layanan MBG di Kota Lubuklinggau setelah seluruh persiapan untuk operasionalnya selesai.
“Ada 12 dapur baru di Lubuklinggau dalam tahap persiapan, segera akan dibuka,” tutur Desi.
Penambahan dapur SPPG ini diharapkan dapat mendukung perluasan jangkauan program Makan Bergizi Gratis bagi peserta didik di Kota Lubuklinggau.
Meski demikian, waktu dimulainya kembali penyaluran MBG masih menunggu kebijakan Disdikbud mengenai penerapan pembelajaran tatap muka. Sementara itu, satu dapur SPPG di Kecamatan Lubuklinggau Utara II masih menunggu SLHS sebelum dapat kembali beroperasi.
Penghentian sementara penyaluran MBG tersebut membuat pelaksanaan program di Lubuklinggau untuk sementara menyesuaikan dengan kebijakan pembelajaran di sekolah, sedangkan persiapan penambahan dapur terus dilakukan.
BACA JUGA: Herman Deru Sebut Porprov 2027 Jadi Ujian Kehebatan Wali Kota Lubuklinggau







