Siswi SMP Diduga Jadi Korban Pencabulan Guru Olahraga, Fakta Baru Terungkap di Muratara

oleh -68 Dilihat
oleh
Kasus Dugaan Pencabulan Siswi SMP di Muratara, Tersangka Disebut Beraksi Berulang Kali

Tersangka Bantah Terjadi Hubungan Badan

Dalam keterangannya kepada penyidik, LA disebut membantah melakukan hubungan badan dengan korban. Namun, tersangka diduga mengakui melakukan tindakan berupa mencium dan menyentuh bagian sensitif tubuh korban.

Meski demikian, penyidik belum berhenti pada pengakuan tersangka. Keterangan tersebut masih perlu dicocokkan dengan kesaksian korban, keterangan saksi-saksi, serta bukti lain yang berkaitan dengan perkara.

“Keterangan tersangka kami perdalam dengan keterangan korban dan saksi-saksi. Mudah-mudahan semuanya menjadi terang,” ujar Henry.

Penyidik juga berencana meminta keterangan dari pihak sekolah guna mendalami rangkaian kejadian, termasuk aktivitas les privat yang disebut berlangsung di lingkungan sekolah.

Kasus Terungkap Setelah Korban Mengadu kepada Orang Tua

Kasus ini mencuat setelah korban E, yang masih duduk di kelas IX SMP, menceritakan kejadian yang dialaminya kepada orang tua. Pihak keluarga kemudian melaporkan dugaan pencabulan tersebut kepada kepolisian.

Peristiwa yang dilaporkan itu disebut terjadi di ruang perpustakaan sekolah pada Senin (5/10/2026) siang. Korban diduga berusaha melawan, tetapi merasa takut karena orang yang diduga melakukan perbuatan tersebut merupakan gurunya sendiri.

Setelah menerima laporan dan melakukan penyelidikan, polisi menangkap LA pada Selasa (6/10/2026) malam. Penangkapan dilakukan tanpa perlawanan.

LA diketahui merupakan guru olahraga atau pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan (PJOK) berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang bertugas di salah satu SMP di Kabupaten Muratara.

Penyidik Masih Kembangkan Kemungkinan Korban Lain

Saat ini, penyidik masih berupaya memastikan apakah terdapat korban lain selain E. Kepolisian juga mengharapkan pihak yang mengetahui atau mengalami dugaan peristiwa serupa dapat memberikan informasi kepada penyidik melalui jalur resmi.

Pemanggilan pihak sekolah menjadi salah satu langkah lanjutan untuk mengumpulkan keterangan dan memperjelas rangkaian peristiwa yang terjadi.

Kasus ini menjadi perhatian serius karena dugaan perbuatan tersebut melibatkan seorang tenaga pendidik dan seorang siswi yang masih di bawah umur. Proses penyelidikan diharapkan dapat mengungkap fakta secara menyeluruh sekaligus memastikan perlindungan terhadap korban.

Hingga berita ini disusun, dugaan adanya korban tambahan masih dalam pendalaman. Seluruh keterangan mengenai peristiwa tersebut tetap perlu diuji melalui proses hukum yang berlaku, dengan tetap mengutamakan perlindungan identitas dan kondisi psikologis korban anak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.